Berkenalan dengan Ilmu Kebalikan
(sumber : Kuliah Prof. Marsigit, M. A.)
Assalamualaikum, Wr. Wb.
Bismillahirrohmanirrohim..
Berawal
dari sebuat perkenalan. Perkenalan merupakan kegiatan awal kami pada pertemuan
pertama dengan ‘filsafat ilmu’, dengan dosen pengampu mata kuliah filsafat ilmu
(Prof. Marsigit, M. A.), dengan segala kondisi dan situasi yang baru dan
berbeda pula bagi saya. Mata kuliah ini merupakan mata kuliah wajib yang diambil mahasiswa pada
program PPs P.Mat UNY 2017. Pertemuan kami diawali dengan permintaan Bapak
untuk duduk secara melingkar dan saling berdekatan. Kemudian dilanjutkan
perkenalan dengan masing-masing mahasiswa. Setelah mahasiswa selesai,
dilanjutkan perkenalan dari Bapak Prof. Marsigit. Melalui perkenalah itu, saya
sudah mendapatkan banyak istilah-istilah yang bisa dibilang istilah dalam
filsafat, contohnya: skeptis, spiritual, istilah awam, kontemporer,
tradisional, dsb.
Sebelumnya
saya pernah mendapatkan materi filsafat, namun jujur saja saya kurang memahami
betul esensi dari mata kuliah tersebut. Bahkan terkadang yang ada dalam pikiran
saya, filsafat adalah ilmu yang hanya bisa dijangkau oleh orang-orang tertentu
(filsuf). Oleh karena itu, seperti apa yang disampaikan Prof. Marsigit, mencari
ilmu harus ada semangat, power dari dalam diri sendiri. Karena Sebenar-benar
diriku tidaklah mengetahui apapun (socrates).
Berbicara
mengenai filsafat, orang yang berfilsafat yaitu orang yang berkomunikasi.
Menggunakan bahasa awam untuk menjangkau area yang transenden, spiritual.
Karena filsafat merupakan ikhtiar pikiran manusia, belum sampai pada dalil/ hadits/
al-qur’an. Syarat dari seseorang yang akan berfilsafat adalah adanya rasa bingung.
Kebingungan yang dimaksud adalah bingung di dalam pikiran. Karena kebingungan
tersebut menunjukkan adanya tanda – tanda seseorang mencari/ membangun ilmu. Akan
tetapi, jangan sampai bingung di dalam hati yang nantinya malah bisa merusak
keimanan kita.
Belajar
filsafat berbeda dengan belajar ilmu lainnya, yaitu dari tahu menjadi tidak
tahu. Inilah mengapa saya memberi judul pada refleksi pertama ini dengan judul
belajar ilmu kebalikan. Jika belajar matematika, awalnya tidak mengetahui
apapun maka setelah belajar akan menjadi tahu suatu ilmu tentang matematika.
Sehingga setelah kuliah berakhir maka akan berhati-hati dalam mendefinisikan
filsafat.
Dalam
filsafat pula, derajat seseorang yang tidak mengetahui apapun lebih tinggi dari yang mengetahui suatu hal.
Filsafat berarti mengalirkan gagasan-gagasan/ ide. Gagasan atau ide tersebut
tentu memiliki sumber atau alasan tertentu, seperti segala sesuatu pasti punya
landasan maupun arah. Bila dianalogikan bagaikan sebuah bangunan pasti punya
pondasi di bawahnya. Landasan
dalam berfilsafat adalah paradigma. Paradigma yang dimaksud adalah membangun (to
construct) hal-hal yang baik secara luas dan dalam. Jika pada struktur dunia
lain yang isomorfis, berawal dari spiritual kemudian turun kepada pengetahuan manusia,
selanjutnya turun pada ilmu-ilmu bidang/ cabang. Kemudian turun kepada
formalitas / aturan perundang-undangan, dilanjutkan interaksi antar manusia, dunia tumbuhan,
binatang, dan yang terakhir pada benda-benda yang ada di bumi.
Landasan
membangun tidak berbeda dengan landasan perkuliahan yang akan diterapkan, yaitu
landasan paradigma. Paradigma perkuliahan yaitu membangun, sehingga mahasiswa
diharapkan untuk cunstruct pengetahuannya sendiri tentang filsafat. Dosen
sebagai fasilitator. Salah satu fasilitas yang diberikan yaitu berupa situs
www.powermathematics.blogspot.com
Ketika
proses mempelajari filsafat, tidak sedikit yang merasakan ketidakfahaman
tentang hal tersebut. Semakin seseorang tidak memahami suatu hal ternyata
berkaitan dengan dimensi seseorang. Pikiran yang tidak sampai kepada pemikiran
filsuf lain, merupakan suatu dimensi. Dan dimensi seseorang akan selalu
meningkat jika dilihat dari waktu. Selain itu, ketidakfahaman tersebut akan
membuat kacau pikiran. Kacaunya pikiran merupakan tanda berfilsafat. Lalu apa
yang bisa dilakukan? Yaitu tetap selalu berdoa pada Allah SWT. Ilmu ada karena
pertanyaan, sehingga pertanyaan itu merupakan buah dari kacaunya pikiran. Ilmu tersebut adalah ilmu dunia. Jika
kebingungan ada di dalam pikiran, maka tetapkanlah hati.
Oleh karena itu : JALANI, PIKIRKAN, DAN DOAKAN
Jalanilah yang engkau pikirkan, pikirkanlah yang engkau jalani,
keduanya diiringi dengan do’a.
Begitulah
pesan pertama yang Prof. sampaikan pada kuliah pertama. Semoga menjadi bekal
kita dalam mempelajari filsafat.
Demikian
refleksi perkuliahan perdana yang bisa saya tuliskan. Tentu masih banyak
kekurangannya.
Wassalamu'alaikum..
0 komentar:
Posting Komentar