Minggu, 15 Oktober 2017

REFLEKSI PERKULIAHAN FILSAFAT ILMU PERTEMUAN 1 (Selasa, 5 Spetember 2017)

Berkenalan dengan Ilmu Kebalikan
(sumber : Kuliah Prof. Marsigit, M. A.)

Assalamualaikum, Wr. Wb.

Bismillahirrohmanirrohim..

Berawal dari sebuat perkenalan. Perkenalan merupakan kegiatan awal kami pada pertemuan pertama dengan ‘filsafat ilmu’, dengan dosen pengampu mata kuliah filsafat ilmu (Prof. Marsigit, M. A.), dengan segala kondisi dan situasi yang baru dan berbeda pula bagi saya. Mata kuliah ini merupakan  mata kuliah wajib yang diambil mahasiswa pada program PPs P.Mat UNY 2017. Pertemuan kami diawali dengan permintaan Bapak untuk duduk secara melingkar dan saling berdekatan. Kemudian dilanjutkan perkenalan dengan masing-masing mahasiswa. Setelah mahasiswa selesai, dilanjutkan perkenalan dari Bapak Prof. Marsigit. Melalui perkenalah itu, saya sudah mendapatkan banyak istilah-istilah yang bisa dibilang istilah dalam filsafat, contohnya: skeptis, spiritual, istilah awam, kontemporer, tradisional, dsb.

Sebelumnya saya pernah mendapatkan materi filsafat, namun jujur saja saya kurang memahami betul esensi dari mata kuliah tersebut. Bahkan terkadang yang ada dalam pikiran saya, filsafat adalah ilmu yang hanya bisa dijangkau oleh orang-orang tertentu (filsuf). Oleh karena itu, seperti apa yang disampaikan Prof. Marsigit, mencari ilmu harus ada semangat, power dari dalam diri sendiri. Karena Sebenar-benar diriku tidaklah mengetahui apapun (socrates).

Berbicara mengenai filsafat, orang yang berfilsafat yaitu orang yang berkomunikasi. Menggunakan bahasa awam untuk menjangkau area yang transenden, spiritual. Karena filsafat merupakan ikhtiar pikiran manusia, belum sampai pada dalil/ hadits/ al-qur’an. Syarat dari seseorang yang akan berfilsafat adalah adanya rasa bingung. Kebingungan yang dimaksud adalah bingung di dalam pikiran. Karena kebingungan tersebut menunjukkan adanya tanda – tanda seseorang mencari/ membangun ilmu. Akan tetapi, jangan sampai bingung di dalam hati yang nantinya malah bisa merusak keimanan kita.
Belajar filsafat berbeda dengan belajar ilmu lainnya, yaitu dari tahu menjadi tidak tahu. Inilah mengapa saya memberi judul pada refleksi pertama ini dengan judul belajar ilmu kebalikan. Jika belajar matematika, awalnya tidak mengetahui apapun maka setelah belajar akan menjadi tahu suatu ilmu tentang matematika. Sehingga setelah kuliah berakhir maka akan berhati-hati dalam mendefinisikan filsafat.

Dalam filsafat pula, derajat seseorang yang tidak mengetahui apapun  lebih tinggi dari yang mengetahui suatu hal. Filsafat berarti mengalirkan gagasan-gagasan/ ide. Gagasan atau ide tersebut tentu memiliki sumber atau alasan tertentu, seperti segala sesuatu pasti punya landasan maupun arah. Bila dianalogikan bagaikan sebuah bangunan pasti punya pondasi di bawahnya. Landasan dalam berfilsafat adalah paradigma. Paradigma yang dimaksud adalah membangun (to construct) hal-hal yang baik secara luas dan dalam. Jika pada struktur dunia lain yang isomorfis, berawal dari spiritual kemudian turun kepada pengetahuan manusia, selanjutnya turun pada ilmu-ilmu bidang/ cabang. Kemudian turun kepada formalitas / aturan perundang-undangan, dilanjutkan  interaksi antar manusia, dunia tumbuhan, binatang, dan yang terakhir pada benda-benda yang ada di bumi.    
Landasan membangun tidak berbeda dengan landasan perkuliahan yang akan diterapkan, yaitu landasan paradigma. Paradigma perkuliahan yaitu membangun, sehingga mahasiswa diharapkan untuk cunstruct pengetahuannya sendiri tentang filsafat. Dosen sebagai fasilitator. Salah satu fasilitas yang diberikan yaitu berupa situs www.powermathematics.blogspot.com

Ketika proses mempelajari filsafat, tidak sedikit yang merasakan ketidakfahaman tentang hal tersebut. Semakin seseorang tidak memahami suatu hal ternyata berkaitan dengan dimensi seseorang. Pikiran yang tidak sampai kepada pemikiran filsuf lain, merupakan suatu dimensi. Dan dimensi seseorang akan selalu meningkat jika dilihat dari waktu. Selain itu, ketidakfahaman tersebut akan membuat kacau pikiran. Kacaunya pikiran merupakan tanda berfilsafat. Lalu apa yang bisa dilakukan? Yaitu tetap selalu berdoa pada Allah SWT. Ilmu ada karena pertanyaan, sehingga pertanyaan itu merupakan buah dari kacaunya pikiran.  Ilmu tersebut adalah ilmu dunia. Jika kebingungan ada di dalam pikiran, maka tetapkanlah hati.

Oleh karena itu : JALANI, PIKIRKAN, DAN DOAKAN
Jalanilah yang engkau pikirkan, pikirkanlah yang engkau jalani, keduanya diiringi dengan do’a.
Begitulah pesan pertama yang Prof. sampaikan pada kuliah pertama. Semoga menjadi bekal kita dalam mempelajari filsafat.
Demikian refleksi perkuliahan perdana yang bisa saya tuliskan. Tentu masih banyak kekurangannya. 

Wassalamu'alaikum..

0 komentar:

Posting Komentar