Hidup di dalam Perbatasan
(sumber : Kuliah Prof. Marsigit, M. A.)
Assalamu'alaikum,
Wr. Wb.
Bismillahirrohmanirrohim..
Diawali
dengan tes penempatan pertama. Kemudian dilanjutkan pembahasan. Setalah
mengetahui hasilnya, saya tersadar, memang betul apa yang Bapak dosen sampaikan
bahawa semakin tambah belajar makan akan semakin tidak tahu. Belajar filsafat
tidak akan pernah selesai. Bahkan tidak pernah sama. Hikmah dari ketidaktahuan
tersebut adalah sebuah nolisasi filsafat yaitu belajar filsafat harus dari
bawah agar tidak kesulitan. Ketika belajar juga diperlukan suatu keikhlas dalam
hati dan pikiran. Ikhlas hati yaitu membaca dengan senang, merasa sebagai
ibadah, dan bersyukur memiliki kesempatan. Ikhlas dalam pikiran yaitu membaca
dengan mengerti dan memahami.
Pertanyaan
pertama : “Apa anda ?” jawabannya adalah ‘hakikat’. Tiga pilar filsafat
yaitu hakekat, metode, dan manfaat (ontologi, Epistemologi, aksiologi). Semua
ciptaan Tuhan adalah potensi dalam arti filsafat. Contohnya batu, merupakan
suatu potensi karena bisa bertambah besar atau kecil. Batu mempunyai potensi
tercipta dan ditakdirkan dan berubah. Seorang anak juga potensi, yaitu potensi
bisa jadi baik atau buruk. Siang potensi untuk malam, dan sebaliknya. Potensi
ada 2 yaitu potensi takdir dan potensi ikhtiar / fital dan fatal. Potensi
ikhtiar / potensi berubah tidak hanya dikarenakan oleh sistem alam.
Hidup
itu pilihan. Mau kemana ? Jawabannya adalah memilih. Kita adalah dari yang
terpilih. Kedepan yang terpilih dan kedepan yang memilih. Dan apa yang kita
lakukan adalah sebuah ikhtiar. Sehingga setiap langkah adalah pilihan.
Mengapa
adalah pertanyaan, bertanya adalah awaldari ilmu. Tiadalah ilmu kalau tidak ada
pertanyaan. Siapa namamu? Jawabannya adalah dunia. Dunia setiap hal dengan apa
yang dipikirkan. Semua kenyataan yang ada di belakang dan tidak terlihat/
terperhatikan disebut sebagai Epoche. Sebagai contohnya, seseorang punya anak, punya cucu, punya istri
punya rumah, tapi saat ini tidak ada di hadapan orang tersebut, sehingga
pemikiran tentang mereka perlu dimasukkan ke dalam epoche. Oleh karena itu,
segala yang ada dibelakang seseorang akan dimasukkan kedalam epoche, dan cukup
menghadapi apa yang ada di depannya.
Hidup
itu berkaitan dengan masa lalu, masa sekarang (kenyataan), dan masa depan. Masa
depan yang ada di depan seseorang adalah suatu fenomena. Kemanapun seseorang
akan pergi maka akan selalu diikuti oleh bayang-bayangnya. Hidup kita itu
adalah bayang-bayang dari ajaran, agama, kitab suci Al-qur’an, hadis, ajaran
orang tua, nasehat orang tua, kita ini adalah bayang-bayang. Bayang-bayang ini adalah suatu
kenyataannya. Sehingga, dapat kita ketahui bahwa pada hakikatnya hidup berarti
sebuah kenyataan.
Hidup
merupakan sesuatu yang mengada, sebenar-benarnya mengada adalah perubahan.
Sebenar-benar hidup adalah mengada, hasil dari mengada adalah pengada. Misalnya
sebelum melakukan sesuatu hal atau kegiatan maka hal tersebut dianamakan
mengada, keudian hasil dari mengada adalah pengada, yaitu segala hal yang sudah
ada hasilnya atau bentuknya. Sebagai manusia yang sedang belajar, maka sebenar-
benarnya belajar adalah mengada dari yang ada sampai yang mungkin ada. Yang ada
itu ada sesuatu yang dimeengerti/ ada di dalam pikiran dan yang mungkin ada itu
adalah sesuatu yang tidak dimengerti.
Sebenar-benarnya
hidup adalah kalau kita berada di perbatasan. Pada perbatasan itulah terdapat
ilmu, batas antara jelas dan tidak jelas, batas antara nyaman dan tidak nyaman,
disini mengandung maksud bahwa pikiran sah-sah saja perbedaan, justru ilmu
muncul karena adanya perbedaan jangan sampai perbedaan menjadi batas. Justru
ada perbedaan itulah kita menpunyai ilmu.
Objek
filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada, yang ada yaitu segala sesuatu
yang ada dipikiran dan sesuatu yang mungkin ada itu adalah segala sesuatu yang
belum diketahui. Segala yang tidak diketahui dapat merubah dengan mudah
apa yang mungkin ada menjadi apa yang ada. Dalam
filsafat semua kejelasan itu adalah mitos. Apa yang manusia benci itu adalah
mitos, mitos adalah ditengah-tengah yaitu nyaman, nyaman adalah mitos. Maka
sebenar-benarnya nyaman adalah perjalanan ketidaknyamanan. Mitos itu berarti
diam dan berhenti berpikir.
Pertanyaan
selanjutnya yaitu dimanakah rumahmu? Secara filsafat, rumah kita adalah bahasa.
Sebenar benarnya dirimu adalah bahasamu, sebenar-benar dirimu adalah
kata-katamu, maka hati-hati kalau berbicara atau berkata-kata. Berpikir dalam
hidup yaitu sama seperti apa bahasa kita. Pikiran kita yaitu tentang yang ada
dan yang mungkin ada.
---
Menjawab salah satu pertanyaan dari mahasiswa ---
Bahagia
itu sesuai dengan ruang dan waktunya, cocok dengan ruang dan waktunya. Menjalani
hidup ini sebagaimana mestinya, sesuai dengan ruang dan waktunya. Ketika
waktunya belajar ya haruslah belajar, ketika beribadah maka beribadah, waktunya
sholah sholat, saatnya kuliah kuliah itulah yang bisa disebut dengan istiqomah.
Demikian
refleksi yang dapat saya tuliskan, tentu masih banyak kekurangannya.
Wassalammu'alaikum,
Wr.Wb.
0 komentar:
Posting Komentar