Minggu, 15 Oktober 2017

REFLEKSI PERKULIAHAN FILSAFAT ILMU PERTEMUAN 2 (Selasa, 26 September 2017)

Hidup di dalam Perbatasan
(sumber : Kuliah Prof. Marsigit, M. A.)


Assalamu'alaikum, Wr. Wb.

Bismillahirrohmanirrohim..

Diawali dengan tes penempatan pertama. Kemudian dilanjutkan pembahasan. Setalah mengetahui hasilnya, saya tersadar, memang betul apa yang Bapak dosen sampaikan bahawa semakin tambah belajar makan akan semakin tidak tahu. Belajar filsafat tidak akan pernah selesai. Bahkan tidak pernah sama. Hikmah dari ketidaktahuan tersebut adalah sebuah nolisasi filsafat yaitu belajar filsafat harus dari bawah agar tidak kesulitan. Ketika belajar juga diperlukan suatu keikhlas dalam hati dan pikiran. Ikhlas hati yaitu membaca dengan senang, merasa sebagai ibadah, dan bersyukur memiliki kesempatan. Ikhlas dalam pikiran yaitu membaca dengan mengerti dan memahami.

Pertanyaan pertama : “Apa anda ?” jawabannya adalah ‘hakikat’.  Tiga pilar filsafat yaitu hakekat, metode, dan manfaat (ontologi, Epistemologi, aksiologi). Semua ciptaan Tuhan adalah potensi dalam arti filsafat. Contohnya batu, merupakan suatu potensi karena bisa bertambah besar atau kecil. Batu mempunyai potensi tercipta dan ditakdirkan dan berubah. Seorang anak juga potensi, yaitu potensi bisa jadi baik atau buruk. Siang potensi untuk malam, dan sebaliknya. Potensi ada 2 yaitu potensi takdir dan potensi ikhtiar / fital dan fatal. Potensi ikhtiar / potensi berubah tidak hanya dikarenakan oleh sistem alam.

Hidup itu pilihan. Mau kemana ? Jawabannya adalah memilih. Kita adalah dari yang terpilih. Kedepan yang terpilih dan kedepan yang memilih. Dan apa yang kita lakukan adalah sebuah ikhtiar. Sehingga setiap langkah adalah pilihan.

Mengapa adalah pertanyaan, bertanya adalah awaldari ilmu. Tiadalah ilmu kalau tidak ada pertanyaan. Siapa namamu? Jawabannya adalah dunia. Dunia setiap hal dengan apa yang dipikirkan. Semua kenyataan yang ada di belakang dan tidak terlihat/ terperhatikan disebut sebagai Epoche. Sebagai contohnya, seseorang punya anak, punya cucu, punya istri punya rumah, tapi saat ini tidak ada di hadapan orang tersebut, sehingga pemikiran tentang mereka perlu dimasukkan ke dalam epoche. Oleh karena itu, segala yang ada dibelakang seseorang akan dimasukkan kedalam epoche, dan cukup menghadapi apa yang ada di depannya.

Hidup itu berkaitan dengan masa lalu, masa sekarang (kenyataan), dan masa depan. Masa depan yang ada di depan seseorang adalah suatu fenomena. Kemanapun seseorang akan pergi maka akan selalu diikuti oleh bayang-bayangnya. Hidup kita itu adalah bayang-bayang dari ajaran, agama, kitab suci Al-qur’an, hadis, ajaran orang tua, nasehat orang tua, kita ini adalah bayang-bayang. Bayang-bayang ini adalah suatu kenyataannya. Sehingga, dapat kita ketahui bahwa pada hakikatnya hidup berarti sebuah kenyataan.

Hidup merupakan sesuatu yang mengada, sebenar-benarnya mengada adalah perubahan. Sebenar-benar hidup adalah mengada, hasil dari mengada adalah pengada. Misalnya sebelum melakukan sesuatu hal atau kegiatan maka hal tersebut dianamakan mengada, keudian hasil dari mengada adalah pengada, yaitu segala hal yang sudah ada hasilnya atau bentuknya. Sebagai manusia yang sedang belajar, maka sebenar- benarnya belajar adalah mengada dari yang ada sampai yang mungkin ada. Yang ada itu ada sesuatu yang dimeengerti/ ada di dalam pikiran dan yang mungkin ada itu adalah sesuatu yang tidak dimengerti.

Sebenar-benarnya hidup adalah kalau kita berada di perbatasan. Pada perbatasan itulah terdapat ilmu, batas antara jelas dan tidak jelas, batas antara nyaman dan tidak nyaman, disini mengandung maksud bahwa pikiran sah-sah saja perbedaan, justru ilmu muncul karena adanya perbedaan jangan sampai perbedaan menjadi batas. Justru ada perbedaan itulah kita menpunyai ilmu.

Objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada, yang ada yaitu segala sesuatu yang ada dipikiran dan sesuatu yang mungkin ada itu adalah segala sesuatu yang belum diketahui.  Segala yang tidak diketahui dapat merubah dengan mudah apa yang mungkin ada menjadi apa yang ada. Dalam filsafat semua kejelasan itu adalah mitos. Apa yang manusia benci itu adalah mitos, mitos adalah ditengah-tengah yaitu nyaman, nyaman adalah mitos. Maka sebenar-benarnya nyaman adalah perjalanan ketidaknyamanan. Mitos itu berarti diam dan berhenti berpikir.

Pertanyaan selanjutnya yaitu dimanakah rumahmu? Secara filsafat, rumah kita adalah bahasa. Sebenar benarnya dirimu adalah bahasamu, sebenar-benar dirimu adalah kata-katamu, maka hati-hati kalau berbicara atau berkata-kata. Berpikir dalam hidup yaitu sama seperti apa bahasa kita. Pikiran kita yaitu tentang yang ada dan yang mungkin ada.

--- Menjawab salah satu pertanyaan dari mahasiswa ---

Bahagia itu sesuai dengan ruang dan waktunya, cocok dengan ruang dan waktunya. Menjalani hidup ini sebagaimana mestinya, sesuai dengan ruang dan waktunya. Ketika waktunya belajar ya haruslah belajar, ketika beribadah maka beribadah, waktunya sholah sholat, saatnya kuliah kuliah itulah yang bisa disebut dengan istiqomah.

Demikian refleksi yang dapat saya tuliskan, tentu masih banyak kekurangannya.

Wassalammu'alaikum, Wr.Wb.


0 komentar:

Posting Komentar