Minggu, 17 Desember 2017

REFLEKSI NILAI ETIK DAN ESTETIKA KESENIAN WAYANG

EPISODE : THE DEATH OF RAHWANA  
24/11/2017 - Museum Sonobudoyo

Aksiologi atau teori nilai dipandang sebagai ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan. Atau bisa juga dengan mempelajari tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Aksiologi penting untuk dipelajari, karena segala ilmu pengetahuan akan memiliki manfaat atau ada manfaatnya ketika digunakan dengan sebaik-baiknya. Setiap ilmu yang ada pasti memiliki nilai-nilai tersendiri. Oleh karenanya, terdapat dua penilain yang umum digunakan dalam aksiologi, yaitu etika dan estetika. Etika merupakan salah satu cabang dalam filsafat yang membahas tentang masalah-masalah moral yang meliputi perilaku, norma, dan adat istiadat manusia. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahi dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan. Sedangkan estetika merupakan cabang dalam filsafat yang membahas tentang nilai keindahan. Keindahan yang dimaksud adalah suatu objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras serta memiliki pola yang baik melainkan harus juga mempunyai kepribadian di dalamnya.
Berkaitan dengan nilai etik dan estetika, terdapat salah satu kesenian yang berasal dari Jawa yaitu wayang kulit.
(Gambar pertunjukan wayang kulit tgl 24/11/2017 @ Museum Sonobudoyo)
Wayang memiliki arti bayang-bayang dan dikenal sebagai pertunjukan bayangan yang melibatkan dalang dan wayang sebagai objek yang dimainkannya. Pertunjukan wayang akan melakonkan cerita-cerita yang bersumber dari epos Ramayana atau Mahabharata. Dibalik cerita wayang, terdapat nilai-nilai yang mencerminkan kehidupan manusia. Wayang bercerita melalui bayangan. Adanya bayangan karena adanya cahanya yang menerangi gelap. Cahayapun memiliki sumber cahaya. Tidak berbeda dengan manusia. Manusia dapat dianalogikan sebagai lakon pewayangan yang muncul melalui suatu bayang-bayang dan bersumber dari cahaya yaitu Allah SWT. Kemudian melakukan segala berdasarkan dalang, yang dianalogikan dalam kehidupan dalang ialah Allah SWT. Sebagai seorang dalang, ia berhak atas tokoh yang dimainkannya, seperti halnya manusia yang menjalani kehidupan sesuai dengan skenario dari Allah SWT. Wayang menunjukan sisi estetikanya. Hal ini dapat dilihat melalui kreativitas manusia untuk melakukan suatu pertunjukan seni yang dinamis. Melaui kisah wayang memberikan nilai bahwa manusia seyogyanya mampu untuk bercermin, apakah perbuatan yang telah dilakukannya selama ini telah sesuai dengan ajaran agama? apakah perbuatannya merupakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh Sang Rama dan Hanoman, atau malah berbuat yang tidak baik seperti Sang Rahwana? Cerita wayang merefleksikan kehidupan manusia yang dipertunjukkan di suatu panggung dan mengajarkan bahwa sesuatu yang baik tidak sepenuhnya baik, sesuatu yang jahat tidak sepenuhnya jahat. 

0 komentar:

Posting Komentar