KOMPOSISI DUNIA DALAM FILSAFAT (Perjalanan di atas dan di
bawah langit)
(sumber : Kuliah Prof. Marsigit, M. A.)
Assalamualaikum, Wr. Wb.
Bismillahirrohmanirrohim..
Esensi
dari belajar filsafat telah diuraikan dalam penjelasan Prof. Marsigit pada
perkuliahan beberapa waktu yang lalu. Melalui tulisan ini, saya mencoba
merefleksikan kembali tentang materi tersebut.
Time line dari belajar berfilsafat, dianalogikan seperti kehidupan di lautan. Manusia sebagai ikan-ikan yang ada di lautan luas. Orang berfilsafat yaitu sedang mencari air yang jernih. Dari aliran air ilmu pengetahuan filsafat (dari awal hingga akhir jaman yang akan terus berkembang). Air laut merupakan muara dari aliran sungai yang bermula dari pegunungan. Sehingga air tersebut tidak lagi menjadi jernih. Dengan begitu, manusia yang beajar filsafat harus membuka hati dengan segala hal yang ada agar mengetahui secara utuh, apa itu filsafat.
Kehidupan manusia tidak terlepas dari bahasa. Bahasa
dapat mempersatukan segala perbedaan yang ada, karena melalui bahasa lah kita
dapat saling berkomunikasi menyampaikan pendapat yang berbeda satu dengan yang
lainnya. Bahasa mencakup univoval, ekuivokal, struktur, lambang, semantik,
tautology, maupun kontradiksi seperti pada Elegi Menggapai Bahasa yang telah
dituliskan Prof. Marsigit dalam blognya. Sekelompok manusia atau bangsa yang
hidup pada waktu tertentu tidak akan berkembang baik jika tidak terdapat bahasa.
Begitu pula dengan filsafat dan bahasa yang meiliki keterkaitan. “sebenar-benar filsafat adalah bahasa; sebenar-benar dirimu adalah
bahasamu; sebenar-benar rumahku adalah bahasa; sebenar-benar pikiran adalah bahasa,
dan Sebenar-benar hidup adalah bahasa”.
Filsafat
berarti menyampaikan apa yang ada di pikaran manusia. Kemudian ia nberusaha
memahami apa yang ada di luar pikiranya. Sebagai bekal untuk melakukan keduanya
maka diperlukan bahasa. Bahasa yang dapat menerjemahkan apa isi pikiran
manusia. Pemikiran manusia terbagi menjadi dua dunia, yaitu dunia langit (di
atas) dan dunia kenyataan (di bawahnya). Keduanya terbatasi oleh suatu garis
yang akan membedakan dunia tersebut. Dalam proses perkembangan jaman, batas
tersebut lama-lama akan luntur, bahkan terpisah.
Ada
dua tokoh yang ada dalam kedua pembagian dunia tersebut. Tokoh tersebut adalah
Plato dan Aristoteles. Penganut faham menurut Plato, disebut dengan platonisme
yang menganggap bahwa ilmu ada dari pikiran, sehingga pikiran anak-anak adan
orang dewasa adalah sama. Sedangkan penganut faham menurut Aristoteles disebut
Aristotelianisme yang menganggap bahwa ilmu adalah kenyataan.
Apa
yang ada di dunia atas (langit) yaitu keyakinan atau spiritualisme dimana terdapat
keyakinan tentang Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini juga bersifat absolut
(absolutisme) dan tunggal (monoisme atau satu). Penting untuk menggunakan hati
dalam mempercayai adanya Tuhan. Karena keimanan tertinggi terletak pada hati
manusia. Monoisme juga bersifat identitas, tidak terikat ruang dan waktu.
Sehingga absolutisme bersifat wajib. Namun,
sebenar-benar prinsip monoisme dan absolutisme adalah kuasa Tuhan yang sudah
tertulis pada Kitab Suci Agama. Oleh karena itu semua yang ada di dunia ini
bersifat plural (pluralisme) dan relatif (relativisme).
Pluralisme
berbeda dengan monoisme, dimana plularisme berkaitan dengan kenyataan yang
banyak. Hal ini kontradiksi dengan identitas. Karena sebenar-benar diriku tidak
mampu menunjuk siapa sebenarnya dirimu. Siapa kita tadi, sekarang, dan nanti
akan memiliki persepsi yang berbeda-beda namun merujuk pada satu objek.
Sehingga pluralisme dalam filsafat ini terkait akan ruang dan waktunya.
Kehidupan
di dunia berkaitan dengan materialisme. Materialisme, menekankan pada kebenaran
yang hanya terletak pada materi saja. Selain itu, menganulir satu dengan yang
lainnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Karl Mark. Sebagai contoh dari
materialisme ini adalah tindakan hegemoni yang dilakukan oleh para PKI dan
Komunis.
Kehidupan
di dunia memerlukan suatu intuisi. Intuisi merupakan suatu kemampuan yang dimiliki seseorang namun
secara tidak sadar ia gunakan dalam konteks watu dan ruang yang berbeda. Sebagai
contohnya, apa itu cinta, sayang, cantik, jelek, bahagia, marah, dsb. Hal
tersebut dapat kita fahami tanpa kita ingat kapan kita mempelajari itu semua. Inatuisi
kan berbeda dengan pengetahuan yang kita peroleh dengan kita mempelajari
ilmunya. Menurut Immanuel Kant untuk mendapatkan pengetahuan dapat dilakukan secara
a priori, yaitu pengetahuan masih
bersifat sebagaimana aslinya atau murni, konsep-konsep yang ada tidak
didapatkan dari suatu pengalaman atau kenyataan yang ada, maka ia akan bisa
secara sendirinya. Immanuel Kant juga mendapatkan kesimpulan bahwa pengetahuan bisa
didapatkan dengan cara sintetik A priori
yaitu dengan cara a priori (belum ada
kenyatan) dan dengan cara a posteriori
(memahami setelah mendengar/melakukan).
Matematika
dapat bersifat abstrak dan konkrit. Sebagai contoh matematika abstrak,
matematika murni akan berbeda dengan matematika pendidikan yaitu matematika
yang diajarkan pada anak Matematika murni bersifat a priori, sedangkan matematika pada anak-anak bersifat kenyataan
dan a posteriori. Jadi, ilmu hanya
ada pada manusia dewasa saja yang bersifat rasionalisme dan skepitisisme. Bagi
dunia anak-anak, ilmu hanyalah suatu aktivitas atau kegiatan yang bersifat
empirisme. Karena, pengetahuan pada anak-anak akan diperoleh dari pengalamannya
melalui kegiatan yang diberikan.
Perkuliahan
ditutup dengan pembahasan tentang Fenomena Auguste Comte (filsafat positivisme)
yang memperlihatkan adanya gejala positivisme di mana ilmu pengetahuan diperoleh
dari fakta-fakta yang dapat dilihat. Pada gejala ini, akan menolak metafisika. Selain
itu, etika bahkan teologi/ agama juga ikut ditolak, karena terkesan sebagai
sesuatu yang tidak terlihat. Sedangkan perkembangan teknologi saat ini
merupakan hasil dari gejala positivisme. Sehingga muncul lah dunia power now
yang entah sampai kapan perkembangannya akan semakin besar. Apa yang bisa kita
lakukan sekarang adalah sebuah pertanyaan besar yang mudah untuk dipertanyakan
namun sulit untuk dilakukan pengimplementasian jawaban tersebut.
Demikian refleksi ini saya tuliskan. Tentu masih banyak kekurangannya.
Wassalamu'alaikum, Wr. Wb.
