Selasa, 19 Desember 2017

HERMENEUTIKA KEHIDUPAN DAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA

(Refleksi Perkuliahan Filsafat dengan Prof. Marsigit tgl 28/11/2017)
 The Iceberg Approach of Learning Fractions in Junior High School: Teachers’ Reflection Prior to Lesson Study Activities

Hermeneutika merupakan suatu kondisi dimana segala sesuatu yang ada di dunia ini akan melakukan interaksi, baik berupa pemahaman, penafsiran, dan sebaginya sesuai dengan ruang dan waktunya. Hermeneutika dalam kehidupan diilustrasikan seperti pada gambar di atas oleh Prof. Marsigit. Hermeneutika hidup tersebut terdiri dari dua bagan, yaitu teori dan praktik. Parktik terletak di bawah teori, yang artinya manusia hidup tidak langsung mengenal suatu teori namun ia akan memulai segala sesuatunya dengan praktik. Sebagai contohnya yaitu seorang anak yang belajar berbicara. Ia akan memulainya dari latihan secara pertahap bagaimana mengucapkan suatu huruf. Kata, yang pada akhirnya kalimat. Hal ini tidak didasari oleh teori bagimana berbicara itu.
 Keseluruhan proses tersebut akan membentuk suatu spiral dan berputar tanpa putus. Apa yang dipelajari dengan praktik dan juga intuisi lama-lama akan mencapai pada puncaknya yaitu teori dan berujung pada pemahaman. Siklus tersebut akan berjalan terus dan berulang ketika menemukan suatu ilmu yang baru.
Tidak berbeda dengan pembelajaran matematika. Melalui hermeneutika ini, secara bertahap diawali dengan praktik, harapannya siswa mampu memahami matematika dengan baik. Adapun hermeneutika dalam pembelajaran matematika, oleh Prof. Marsigit diilustrasikan seperti berikut.
 Dalam pembelajaran matematika yang disampaikan pada siswa seygyanya adalah materi matematika sekolah (bukan pure mathematics). Hal ini dikarenakan perkembangan kognitif siswa belum mencapai tingkat tersebut. Bentuk daripada matematika sekolah ini digambarkan secara horizontal. Sedangkan pure mathematics digambarkan sebagai vertical mathematics. Adapun salah satu pendekatan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika di sekolah menurut Prof. Marsigit adalah Iceberg Approach yang diilustrasikan sebagai berikut.

Iceberg Approach merupakan gambaran gunung es matematika realistik sebagai salah satu pendekatan dalam berhermeneutika dalam pembelajaran matematika. Matematika sekolah seyogyanya dikaitkan  dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. sehingga, matematika harus dekat dengan siswa dan relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari.  Realistik merupakan sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa. seperti pada iceberg approach di atas, pada bagian paling dasar berisi objek-objek matematika yang nyata dan ada di kehidupan sehari-hari. kemudian di atasnya terdapat model matematikanya. Dilanjutkan dengan keterkaitan simbol dalam matematika (notasi formal). Sehingga pemikiran siswa akan naik bagaikan sedang mendaki gunung hingga sampai pada puncaknya yaitu pemahaman tentang matematika. Di sini lah peran guru dalam membawa siswa untuk sampai pada puncak tersebut.Siapa yang siap maka matematika akan menjadi bermanfaat bagi dirinya, begitupun sebaliknya, jika siswa kurang siap maka matematika akan menjadi bencana bagi dirinya. 

0 komentar:

Posting Komentar