Sabtu, 23 Desember 2017

REFLEKSI PERKULIAHAN FILSAFAT ILMU BAGIAN KE 7

Sumber : Kuliah Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Seorang ahli filsafat dari Prancis Auguste Comte, merintis salah satu aliran filsafat yaitu positivisme. Manusia hidup berdampingan dengan agama tertentu yang dianutnya. Namun pada masa itu, agama dianggap sebagai sesuatu hal yang tidaklah penting. Auguste Comte menekankan pada keteraturan sosial, begitu ia malihat sejarah ia mengakui bahwa agama di masa lampau sudah menjadi satu tonggak keteraturan sosial yang utama. Auguste Comte meyakini bahwa agama muncul dari sebuah tahapan tertentu dari sejarah manusia. Di sisi lain, Comte meyakini bahwa masyarakat selamanya butuh pada agama, artinya bahwa dari satu sisi agama terancam kepunahan, karena agama berhubungan pada masa dahulu, dan sebab itu agama harus digantikan dengan sesuatu yang sesuai dengan masa kekinian. Selain itu, masyarakat butuh pada sebuah sistem yang dapat menyatukan mereka, sebuah ide-ide umum dan universal, yang hanya dapat diberikan oleh agama.
Tidak berbeda dengan kehidupan yang saat ini terjadi. Agama diperoleh sejak manusia lahir di bumi ini. Sejalan perkembangan manusia, terdapat teknologi yang mengiringinya. Dan teknologi berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Semua manusia berlomba-lomba untuk menciptakan segala teknologi canggih. Bahkan terkadang manusia tertipu daya oleh keberadaan teknologi. Akan tetapi teknologi canggih ciptaan manusia masih belum ada bandingannya dengan ciptaan Allah SWT. Apa yang ada di dunia ini tidak lain karena ciptaanNya. Apa yang dapat manusia lakukan ialah bersyukur terhadap ciptaan Allah SWT.
Manusia tidak terlepas dari suatu pemikiran. Melalui akal dan pikirannya, manusia mampu memikirkan segala hal. Namun hanya Allah SWT sebagai Sang Maha segalaNya sehingga manusia sebagai makhlukNya memiliki keterbatasan dalam sesuatu hal tertentu. Oleh karena itu terkadang yang manusia lakukan adalah mencoba-coba sesuatu hal yang baru yang belum pernah ia lakukan untuk mendapatkan suatu pengalaman. Hal baru tersebut akan menempatkan intuisi penglihatan, pendengaran, dan perasaan sebagai bekal memperoleh pengalaman yang baru.  

Dimensi dari setiap manusia merupakan hal yang membedakan antara satu dengan yang lainnya. Untuk menaikkan dimensi dari setiap manusia maka ia akan melakukan sesuatu hal yang baru agar mencapai dimensi yang lebih tinggi dari sebelumnya. Manusia seyogyanya tetap terus belajar sebagai bekal untuk menambah pengalaman sehingga dapat menaikkan dimensinya. Keterbatasan yang ada pada setiap manusia bukanlah penghalang untuk menjadikan manusia sukses dan berhasil di suatu bagian dari kehidupannya. Akan tetapi sebagai makhluk Allah SWT tetap selalu ingat bahwa dimensi tertinggi dari kehidupan ini adalah Allah SWT yang tidak akan dapat dikalahkan oleh manusia. 

REFLEKSI PERKULIAHAN FILSAFAT ILMU BAGIAN KE 6



Sumber : Kuliah Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Terdapat tingkatan di dalam berbagai aspek di kehidupan. Seperti halnya dalam matematika yang juga terdapat tingkatan di dalamnya. Tingkatan terendah dalam matematika adalah suatu pengertian. Berpikir mengenai pengertian tersebut berkaitan dengan konsep yang ada dalam matematika. Adapun konsep jika ditinjau dari filsafat dapat berarti objek. Sebagai contohnya yaitu konsep titik (objek titik). Titik tidak dapat didefinisikan, bayangan dari titik adalah yang ada dan yang mungkin ada. Adapun keberadaan dari titik tersebut terikat oleh ruang dan waktu.
Wadah dan isi merupakan sesuatu yang memiliki struktur dan memiliki dimensi. Wadah dan isi merupakan hal yang ada dan yang mungkin ada. Melalui pikiran manusia yang telah dianugerahkan dari Allah SWT dapat terbentuk suatu konsep baru tentang pengetahuan. Antara pikiran dan kenyataan, masing-masing memiliki keterkaitan dengan predikatnya. Sehingga sebenar-benar predikat hanya mampu dipikirkan. Ingatan yang ada di pikiran manusia merupakan salah satu titik diantara keseluruhan yang ada.
Yang dilakukan manusia di muka bumi ini adalah berbuat kebaikan dan tidak luput dari berbuat keburukan atau kesalahan. Namun, keburukan tidak perlu diingat-ingat dalam pikiran hanya saja perlu diperbaiki dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat dan tidak mengulangi keburukan tersebut. Apa yang manusia bisa perbuat adalah berikhtiar serta berdoa agar apa yang dijalani mendapatkan ridho dan barokah dari Allah SWT.  
Di dalam ingatan tentu terdapat suatu skema pengalaman, pengetahuan, ataupun yang lainnya. Skema tersebut membentuk suatu pola tertentu yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Mengingat akan berkebalikan dengan melupakan. Lupa itu manusiawi. Siapa saja pasti tidak luput dari lupa. Ingatan akan secara alami melupakan hal-hal yang tidak berkesan, tidak diulang-ulang, tidak paham akan sesuatu hal. Apa yang menjadi poin penting dalam hal mengingat sesuatu adalah intuisi. Intuisi adalah suatu anugerah yang Allah SWT berikan kepada diri setiap manusia. oleh karena itu, penting untuk mengingat segala hal yang baik dari orang lain sebagai bahan refleksi diri sendiri dan melupakan hal-hal yang tidak baik. “Pikirkanlah apa yang kamu jalani, dan jalani apa yang kamu pikirkan, dan semua terangkum dalam doa”

Jumat, 22 Desember 2017

REFLEKSI PERKULIAHAN FILSAFAT ILMU BAGIAN KE 5

Ruang dan Waktu dalam Kehidupan
Sumber : Kuliah Prof. Dr. Marsigit, M.A.



Manusia itu jauh dari kata sempurna. Namun sosok manusia adalah sosok yang berbeda dari makhluk Allah SWT lainnya. Dengan kata lain manusia relatif, sesuai dengan ruang dan waktunya. Peradaban dan kekuasaan menjadi faktor utama dalam pembentukan karakter manusia. Seorang anak yang tumbuh di lingkungan tertentu maka pribadinya akan terbentuk seperti lingkungannya. Orang tua sebagai contoh pertama dalam kehidupan seorang anak tentu memiliki peran penting dalam setiap perkembangan anak. Selama hidup di dunia, tentu manusia tidak luput dari kesalahan. Kesalahan yang dimaksud adalah perbuatan yang tidak baik, sebagai contohnya yaitu melakukan kebohongan. Hal yang sangat mudah dilakukan manusia. Setiap manusia akan mencoba menutupi setiap kebohongan yang telah ia lakukan. Kebohongan akan ditutupi oleh kebohongan baru, dan seterusnya. Oleh karena itu, manusia tidak bisa hidup jika tidak memakai topeng (baca: menutupi kebohongannya).
Terdapat suatu istilah yaitu “kanopi” yang berarti topeng. Kanopi yang dimaksudkan adalah hal yang berarti tempat berlindung, bersembunyi, dan sebagainya. Hal ini bisa menjadikan manusia menyalahgunakan kanopi tersebut untuk melindungi dirinya dari perilaku buruk yang telah ia lakukan. Manusia tidak akan bisa hidup jika tidak memakai topeng. Sehingga, semua manusia itu tidak lain adalah manusia bertopeng. Setiap manusia setidaknya pernah melakukan kebohongan. Entah disengaja atau tidak. Bahkan ketika topeng tersebut di buka, maka seorang manusia bisa jadi tidak bisa hidup dengan baik. Namun, sepandai-pandai manusia menyembunyikan sesuatu maka akan diketahui oleh Allah SWT.
Hal-hal yang buruk bisa tergatikan oleh hal-hal yang baik. Tentu saja dengan memperbaiki diri dengan melakukan kebaikan-kebaikan. Kedatangan dan kepergian merupakan hal yang wajar terjadi. Sebagai bagian dari menembus ruang dan waktu, akan terjadi reduksi dari hal-hal yang baik. Intuisi yang dimiliki manusia akan membantu untuk mengingat masa lampau dan yang sudah terjadi dan pada masa sekarang. Intuisi berkaitan dengan ingatan. Adanya ingatan akan membuat manusia memahami sesuatu hal. Sehingga manusia dapat berinteraksi dan berkomunikasi satu dengan yang lainnya karena ia mempunyai intuisi dan ingatan.
Kehidupan jika ditinjau dari filsafat maka akan memiliki tingkatan atau dimensi. Dimensi tersebut terjadi secara bertahap sesuai dengan kondisi manusia. manusia dewasa memiliki dimensi yang berbeda dengan anak-anak. Misalnya, siswa SD diberikan pertanyaan terkait dengan materi SMP. Wajar saja jika ia tidak bisa menjawabnya, hal tersebut dikarenakan tidak cocok ruang dan waktunya. Sehingga pada dasarnya tidak ada pelajaran yang sulit. Hanya saja belum tepat penyampaiannya dalam hal ruang dan waktunya.

Selasa, 19 Desember 2017

HERMENEUTIKA KEHIDUPAN DAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA

(Refleksi Perkuliahan Filsafat dengan Prof. Marsigit tgl 28/11/2017)
 The Iceberg Approach of Learning Fractions in Junior High School: Teachers’ Reflection Prior to Lesson Study Activities

Hermeneutika merupakan suatu kondisi dimana segala sesuatu yang ada di dunia ini akan melakukan interaksi, baik berupa pemahaman, penafsiran, dan sebaginya sesuai dengan ruang dan waktunya. Hermeneutika dalam kehidupan diilustrasikan seperti pada gambar di atas oleh Prof. Marsigit. Hermeneutika hidup tersebut terdiri dari dua bagan, yaitu teori dan praktik. Parktik terletak di bawah teori, yang artinya manusia hidup tidak langsung mengenal suatu teori namun ia akan memulai segala sesuatunya dengan praktik. Sebagai contohnya yaitu seorang anak yang belajar berbicara. Ia akan memulainya dari latihan secara pertahap bagaimana mengucapkan suatu huruf. Kata, yang pada akhirnya kalimat. Hal ini tidak didasari oleh teori bagimana berbicara itu.
 Keseluruhan proses tersebut akan membentuk suatu spiral dan berputar tanpa putus. Apa yang dipelajari dengan praktik dan juga intuisi lama-lama akan mencapai pada puncaknya yaitu teori dan berujung pada pemahaman. Siklus tersebut akan berjalan terus dan berulang ketika menemukan suatu ilmu yang baru.
Tidak berbeda dengan pembelajaran matematika. Melalui hermeneutika ini, secara bertahap diawali dengan praktik, harapannya siswa mampu memahami matematika dengan baik. Adapun hermeneutika dalam pembelajaran matematika, oleh Prof. Marsigit diilustrasikan seperti berikut.
 Dalam pembelajaran matematika yang disampaikan pada siswa seygyanya adalah materi matematika sekolah (bukan pure mathematics). Hal ini dikarenakan perkembangan kognitif siswa belum mencapai tingkat tersebut. Bentuk daripada matematika sekolah ini digambarkan secara horizontal. Sedangkan pure mathematics digambarkan sebagai vertical mathematics. Adapun salah satu pendekatan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika di sekolah menurut Prof. Marsigit adalah Iceberg Approach yang diilustrasikan sebagai berikut.

Iceberg Approach merupakan gambaran gunung es matematika realistik sebagai salah satu pendekatan dalam berhermeneutika dalam pembelajaran matematika. Matematika sekolah seyogyanya dikaitkan  dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. sehingga, matematika harus dekat dengan siswa dan relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari.  Realistik merupakan sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa. seperti pada iceberg approach di atas, pada bagian paling dasar berisi objek-objek matematika yang nyata dan ada di kehidupan sehari-hari. kemudian di atasnya terdapat model matematikanya. Dilanjutkan dengan keterkaitan simbol dalam matematika (notasi formal). Sehingga pemikiran siswa akan naik bagaikan sedang mendaki gunung hingga sampai pada puncaknya yaitu pemahaman tentang matematika. Di sini lah peran guru dalam membawa siswa untuk sampai pada puncak tersebut.Siapa yang siap maka matematika akan menjadi bermanfaat bagi dirinya, begitupun sebaliknya, jika siswa kurang siap maka matematika akan menjadi bencana bagi dirinya. 

Minggu, 17 Desember 2017

REFLEKSI TENTANG PSIKOLOGI SPIRITUAL

(12/12/2017)

“Ojo nggege mongso”

Terjemahan dalam bahasa indonesia memiliki makna bahwa jangan mendahului keinginan tuhan. Jangan memaksakan sesuatu terjadi sebelum waktunya. Jangan mempercepat waktu atau makna sebenarnya adalah jangan memaksakan diri memperoleh hasil sebelum waktunya.

Jika dalam filsafat, hal yang demikian merupakan suatu “musuh”. Karena, sebenar-benar musuh dalam berfilsafat adalah yang mendahului kehendak tuhan.

Sebagai contohnya yaitu waktu masih kurang satu minggu namun dirasakan hanya kurang satu hari saja. Seorang yang memiliki adik berumur 1 tahun diperlakukan seperti anak yang berusia 10 tahun. Memaksakan buah muda agar segera matang. Atau bisa juga dengan memaksakan diri menempati kedudukan tertentu sebelum memiliki kesiapan atau bekal yg matang dan memadahi.
Apa yang boleh dilakukan yaitu bercita-cita maupun berangan-angan namun tidak dalam artian mendahului kehendak tuhan. Perbedaanya terletak pada optimalisasi hubungan antara kenyataan dan pikiran, antara harapan dan kenyataan. Melihat kenyataan untuk menentukan pemikiran kita yang logis dan realistis. Hal ini bisa disebut juga sebagai ikhtiar, yaitu usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi.


Segala sesuatu pasti memiliki proses dan tahapannya masing-masing. Tahapan tersebut harus dilalui satu persatu. Seperti diibaratkan dengan naik tangga. Jika ingin sampai ke tingkat paling atas dari tangga tersebut maka langkah kaki harus dimulai dari anak tangga yg paling bawah. Tidak bisa serta merta langung melangkah pada anak tangga paling atas. Oleh karena itu penting bagi manusia untuk selalu berikhtiar dan tidak lupa berdoa, karena Allah SWT memiliki jawaban terbaik atas doa dan ikhtiar manusia.

Seperti dalam Al-Qur’an Surat Al-Insyiqaq: 19 yang artinya : "Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)". 

REFLEKSI NILAI ETIK DAN ESTETIKA KESENIAN WAYANG

EPISODE : THE DEATH OF RAHWANA  
24/11/2017 - Museum Sonobudoyo

Aksiologi atau teori nilai dipandang sebagai ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan. Atau bisa juga dengan mempelajari tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Aksiologi penting untuk dipelajari, karena segala ilmu pengetahuan akan memiliki manfaat atau ada manfaatnya ketika digunakan dengan sebaik-baiknya. Setiap ilmu yang ada pasti memiliki nilai-nilai tersendiri. Oleh karenanya, terdapat dua penilain yang umum digunakan dalam aksiologi, yaitu etika dan estetika. Etika merupakan salah satu cabang dalam filsafat yang membahas tentang masalah-masalah moral yang meliputi perilaku, norma, dan adat istiadat manusia. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahi dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan. Sedangkan estetika merupakan cabang dalam filsafat yang membahas tentang nilai keindahan. Keindahan yang dimaksud adalah suatu objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras serta memiliki pola yang baik melainkan harus juga mempunyai kepribadian di dalamnya.
Berkaitan dengan nilai etik dan estetika, terdapat salah satu kesenian yang berasal dari Jawa yaitu wayang kulit.
(Gambar pertunjukan wayang kulit tgl 24/11/2017 @ Museum Sonobudoyo)
Wayang memiliki arti bayang-bayang dan dikenal sebagai pertunjukan bayangan yang melibatkan dalang dan wayang sebagai objek yang dimainkannya. Pertunjukan wayang akan melakonkan cerita-cerita yang bersumber dari epos Ramayana atau Mahabharata. Dibalik cerita wayang, terdapat nilai-nilai yang mencerminkan kehidupan manusia. Wayang bercerita melalui bayangan. Adanya bayangan karena adanya cahanya yang menerangi gelap. Cahayapun memiliki sumber cahaya. Tidak berbeda dengan manusia. Manusia dapat dianalogikan sebagai lakon pewayangan yang muncul melalui suatu bayang-bayang dan bersumber dari cahaya yaitu Allah SWT. Kemudian melakukan segala berdasarkan dalang, yang dianalogikan dalam kehidupan dalang ialah Allah SWT. Sebagai seorang dalang, ia berhak atas tokoh yang dimainkannya, seperti halnya manusia yang menjalani kehidupan sesuai dengan skenario dari Allah SWT. Wayang menunjukan sisi estetikanya. Hal ini dapat dilihat melalui kreativitas manusia untuk melakukan suatu pertunjukan seni yang dinamis. Melaui kisah wayang memberikan nilai bahwa manusia seyogyanya mampu untuk bercermin, apakah perbuatan yang telah dilakukannya selama ini telah sesuai dengan ajaran agama? apakah perbuatannya merupakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh Sang Rama dan Hanoman, atau malah berbuat yang tidak baik seperti Sang Rahwana? Cerita wayang merefleksikan kehidupan manusia yang dipertunjukkan di suatu panggung dan mengajarkan bahwa sesuatu yang baik tidak sepenuhnya baik, sesuatu yang jahat tidak sepenuhnya jahat.